Rabu, 22 Februari 2012

Produk dalam Marketing


(1) “A product as anything that can be offered to a market for attention, acquisition, use or consumption and that might satisfy a want or need”
Kotler dan Amstrong (1996:274)

(2) “A product is asset of tangible and intangible attributes, including packaging, color, price quality and brand plus the services and reputation of the seller”
Stanton, (1996:222)

“Produk adalah pemahaman subyektif dari produsen atas “sesuatu” yang bisa ditawarkan sebagai usaha untuk mencapai tujuan organisasi melalui pemenuhan kebutuhan dan keinginan konsumen, sesuai dengan kompetensi dan kapasitas organisasi serta daya beli”
Tjiptono (1999:95)

***

(1)  Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kedalam pasar untuk diperhatikan, dimiliki, dipakai atau dikonsumsi sehingga dapat memuaskan keinginan/ kebutuhan

(2)  Suatu produk adalah kumpulan dari atribut-atribut yang nyata maupun tidak nyata, termasuk di dalamnya kemasan, warna, harga, kualitas dan merk ditambah dengan jasa dan reputasi penjualannya.

Dari 3 kutipan pendapat diatas dapat kita simpulkan bahwa Produk merupakan segala sesuatu yang dapat ditawarkan untuk dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan konsumen dalam  rangka mencapai tujuan organisasi yang terbentuk dari kumpulan atribut nyata dan/atau tidak nyata.

*****

TINGKATAN PRODUK

Menurut Kotler (2003:408) ada lima tingkatan produk, yaitu core benefit, basic product, expected product, augmented product dan potential product. Penjelasan tentang kelima tingkatan produk adalah :
  1. Core benefit atau produk inti (namely the fundamental service of benefit that costumer really buying) yaitu manfaat dasar dari suatu produk yang ditawarkan kepada konsumen dan yang benar-benar dibutuhkan dan akan dikonsumsi oleh konsumen.
  2. Basic product atau produk generik (namely a basic version of the product) yaitu produk yang mampu dikombinasikan untuk mendukung produk inti dalam menyampaikan manfaat inti melalui merk, tingkat kualitas maupun kemasan
  3. Expected product (namely a set of attributes and conditions that the buyers normally expect and agree to when they purchase this product) yaitu serangkaian atribut produk dan kondisi yang diharapkan mendapat kesepakatan  pembeli pada saat membeli.
  4. Augmented product (namely that one includes additional service and benefit that distinguish the company’s offer from competitor’s offer) yaitu sesuatu yang membedakan antara produk yang ditawarkan dengan produk yang ditawarkan oleh pesaing dengan maksud menambah kepuasan bagi konsumen.
  5. Potential product (namely all of the argumentations and transformations that this product that ultimately undergo in the future) yaitu segala macam tambahan dan perubahan yang mungkin dikembangkan untuk suatu produk dimasa mendatang.
 *****

Sebuah penawaran produk atau jasa dapat dibedakan menjadi empat kelompok besar. Baik Philip Kotler maupun Henry Assael membedakan produk dan jasa ke dalam empat kelompok besar. Pengelompokan tersebut berdasarkan pada: produk dan jasa manakah yang diutamakan untuk ditawarkan, serta produk dan jasa manakah yang berfungsi sebagai sarana pendukungnya.

a) Barang Nyata Murni (Pure Product)
Merupakan barang nyata yang berwujud nyata secara fisik, dapat dipegang, diraba, dibau, dan seterusnya, dan umumya tidak didukung dan tidak membutuhkan jasa.seperti sabun, pasta gigi, ataupun gula,

b) Barang Nyata dengan Jasa Tambahan (Product Related Service)
Merupakan barang  nyata yang mempunyai wujud nyata secara fisik namun ditunjang jasa untuk menambah penampilannya bagi konsumen seperti  mobil, komputer, dan
barang elektronik lain, serta produk lain yang biasanya disertai garansi penjualan.

c) Jasa Utama Disertai oleh Barang dan Jasa Tambahan (Equipment Intensive Service)
Intensitas jasa yang ditawarkan lebih besar daripada yang telah disebutkan sebelumnya. Namun dalam penawarannya diperlukan bantuan dan dukungan barang berwujud. Misalnya dalam  jasa penginapan (hotel), di mana selain menawarkan penginapan juga menawarkan fasilitan lain, di antaranya adalah restoran, fasilitas kebugaran (fitness centre).

d) Murni Jasa (Pure Service)
Merupakan mutlak jasa murni yang dalam proses produksinya tidak menggunakan dan tidak membutuhkan keberadaan barang berwujud, misalnya pengacara dan konsultan manajemen.

*****


KLASIFIKASI PRODUK

Menurut Kotler (2002,p.451), produk dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1. Berdasarkan wujudnya, yaitu :
  • Barang merupakan produk yang berwujud fisik, sehingga bisa dilihat, diraba atau disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan, dan perlakuan fisik lainnya.
  • Jasa merupakan aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual (dikonsumsi pihak lain). Seperti halnya bengkel reparasi, salon kecantikan, hotel dan sebagainya. Kotler (2002, p.486) juga mendefinisikan jasa sebagai berikut : “ Jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apa pun. Produknya dapat dikaitkan atau tidak dikaitkan dengan suatu produk fisik.
2. Berdasarkan aspek daya tahannya produk dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
  • Barang tidak tahan lama (nondurable goods) merupakan barang berwujud yang biasanya habis dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian. Dengan kata lain, umur ekonomisnya dalam kondisi pemakaian normal kurang dari satu tahun. Contohnya: sabun, pasta gigi, minuman kaleng dan sebagainya.
  • Barang tahan lama (durable goods) merupakan barang berwujud yang biasanya bisa bertahan lama dengan banyak pemakaian (umur ekonomisnya untuk pemakaian normal adalah satu tahun lebih). Contohnya lemari es, mesin cuci, pakaian dan lain-lain.

3. Berdasarkan tujuan konsumsi yaitu
  • Barang konsumsi (consumer’s goods) merupakan suatu produk yang langsung dapat dikonsumsi tanpa melalui pemrosesan lebih lanjut untuk memperoleh manfaat dari produk tersebut.
Menurut Kotler (2002, p.451), ”barang konsumen adalah barang yang dikonsumsi untuk kepentingan konsumen akhir sendiri (individu dan rumah tangga), bukan untuk tujuan bisnis”. Pada umumnya barang konsumen dibedakan menjadi empat jenis :
  1. Convenience goods merupakan barang yang pada umumnya memiliki frekuensi pembelian tinggi (sering dibeli), dibutuhkan dalam waktu segera, dan hanya memerlukan usaha yang minimum (sangat kecil) dalam pembandingan dan pembeliannya. Contohnya antara lain produk tembakau, sabun, surat kabar, dan sebagainya.
  2. Shopping goods merupakan barang yang dalam proses pemilihan dan pembeliannya dibandingkan oleh konsumen diantara berbagai alternatif yang tersedia. Contohnya alat-alat rumah tangga, pakaian, furniture, mobil bekas dan lainnya.
  3. Specialty goods merupakan barang yang memiliki karakteristik dan/atau identifikasi merek yang unik dimana sekelompok konsumen bersedia melakukan usaha khusus untuk membelinya. Misalnya mobil Lamborghini, pakaian rancangan orang terkenal, kamera Nikon dan sebagainya.
  4. Unsought goods merupakan barang-barang yang tidak diketahui konsumen atau kalaupun sudah diketahui, tetapi pada umumnya belum terpikirkan untuk membelinya. Contohnya asuransi jiwa, ensiklopedia, tanah kuburan dan sebagainya.
  • Barang industri (industrial’s goods) merupakan suatu jenis produk yang masih memerlukan pemrosesan lebih lanjut untuk mendapatkan suatu manfaat tertentu. Biasanya hasil pemrosesan dari barang industri diperjual belikan kembali.

*****

ATRIBUT PRODUK

Menurut Kotler & Armstrong (2001:354) beberapa atribut yang menyertai dan melengkapi produk (karakteristik atribut produk) adalah:
a.   Merek (branding)
Merek (brand) adalah nama, istilah, tanda, simbol, atau rancangan, atau   kombinasi   dari   semua   ini   yang   dimaksudkan   untuk mengidentifikasi produk atau jasa dari satu atau kelompok penjual dan membedakannya dari produk pesaing. Pemberian merek merupakan masalah pokok dalam strategi produk. Pemberian merek itu mahal dan memakan waktu, serta dapat membuat produk itu berhasil atau gagal. Nama merek yang baik dapat menambah keberhasilan yang besar pada produk (Kotler  &  Armstrong, 2001:360

b.   Pengemasan (packing)
Pengemasan    (packing)  adalah  proses yang berkaitan dengan perancangan pembuatan wadah, pembungkus maupun pengangkutan. Hal ini berfungsi sebagai pelindung isi (kerusakan), kemudahan bagi konsumen (membawa, penyusunan, penghitungan), pemakaian ulang (sebagai wadah lain), daya tarik bagi konsumen (desain, artistik) , identitas produk, maupun informasi produk (komposisi, cara pemakaian).
 

c.   Kualitas Produk (Product Quality)
Kualitas Produk (Product Quality) adalah kemampuan suatu produk
untuk  melaksanakan  fungsinya  meliputi,  daya  tahan  keandalan,
ketepatan  kemudahan operasi  dan perbaikan,  serta  atribut  bernilai
lainnya.  Untuk  meningkatkan  kualitas  produk  perusahaan  dapat
menerapkan  program ”Total  Quality  Manajemen (TQM)".  Selain mengurangi kerusakan produk,  tujuan  pokok  kualitas  total  adalah untuk  meningkatkan  nilai  pelanggan.

d.   Garansi (Guarantee)
Garansi adalah janji atau jaminan yang merupakan kewajiban produsen atas produknya terhadap konsumen. Garansi tidak tertulis merupakan kewajaran tanggung jawab atas pembayaran pembeli sedangkan garansi tertulis merupakan perlindungan yang diberikan kepada konsumen terhadap produk yang dibeli secara sah. Namun kenyataannyal, garansi jaminan tertulis merupakan pembatasan tanggung jawab produsen pada apa yang tertulis bahkan dapat dimanfaatkan sebagai promosi produk seperti ”Jaminan 100% halal, tidak mengandung bahan pengawet, kadar kolesterol rendah, dan sebagainya”

*****

Kualitas produk merupakan pemahaman produsen bahwa produk yang ditawarkan kepada konsumen mempunyai nilai jual lebih disbanding dengan produk pesaing. Oleh karena itu perusahaan berusaha memfokuskan pada kualitas produk dan membandingkannya dengan produk yang ditawarkan oleh perusahaan pesaing. Akan tetapi, suatu produk dengan penampilan lebih baik bukanlah merupakan merupakan satu-satunya parameter  jika tampilannya bukanlah yang dibutuhkan dan diinginkan oleh pasar.
Menurut Kotler and Armstrong (2004, p.283) arti dari kualitas produk adalah “the ability of a product to perform its functions, it includes the product’s overall durability, reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued attributes” yang artinya kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya, hal itu termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan pengoperasian dan reparasi produk juga atribut produk lainnya.

DIMENSI KUALITAS PRODUK

“Apabila perusahaan ingin mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam pasar, perusahaan harus mengerti aspek dimensi apa saja yang digunakan oleh konsumen untuk membedakan produk yang dijual perusahaan tersebut dengan produk pesaing”
Mullins, Orville, Larreche, dan Boyd (2005, p.422)

Dimensi kualitas produk tersebut terdiri dari :
  1. Performance (kinerja), berhubungan dengan karakteristik operasi dasar / kebermanfatan dari sebuah produk.
  2. Durability (daya tahan), yang berarti berapa besar ketahanan atau umur produk yang bersangkutan. Semakin besar frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk maka semakin besar pula daya tahan yang harus dimiliki produk. Kepuasan yang didapatkan konsumen terhadap kebermanfaatan suatu produk.
  3. Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi produk dapat memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya atau  ada tidaknya kecacatan pada produk.
  4. Features (fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan fungsi produk atau menambah ketertarikan konsumen terhadap produk.
  5. Reliabilty (reliabilitas), adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan maka produk tersebut dapat diandalkan.
  6. Aesthetics (estetika), berhubungan dengan bagaimana penampilan produk bisa dilihat dari tampak, rasa, bau, dan bentuk dari produk.
  7. Perceived quality (kesan kualitas), sering dibilang merupakan hasil dari penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena terdapat kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti atau kekurangan informasi atas produk yang bersangkutan. Jadi, persepsi konsumen terhadap produk didapat dari harga, merek, periklanan, reputasi, dan Negara asal.

Sumber:
http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=59831 
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pemasaran/Bab_6.pdf

Tidak ada komentar:

Posting Komentar