@rorowidyaa
Jumat, 30 November 2012
Rabu, 09 Mei 2012
Place and Promotion
Place
Place merupakan wadah yang
digunakan sebagai tempat menjalankan usaha yang dapat memberikan konsumen
kemudahan dalam pengaksesannya. Dalam menentukan lokasi atau tempat menjalankan
usaha sebaiknya kita memperhatikan dan mempertimbangkan kestrategisan tempat
dan kemudahan konsumen dalam mengakses barang tersebut. Ada beberapa aspek yang
berperan dalam kemudahan konsumen dalam pengaksesannya seperti:
1.
Jumlah penduduk
yang menghuni lokasi sekitar tempat usaha, hal ini akan berpengaruh pada
seberapa besar kemungkinan tempat usaha kita dilewati atau dikunjungi oleh
calon konsumen
2.
Tingkat pendapatan
penduduk sekitar, hal ini secara tidak langsung akan mempengaruhi daya beli
masyarakat terhadap produk yang kita pasarkan. Disinilah peran penetuan harga
dan penetapan lokasi akan terasa
3.
Atmosfir persaingan
bisnis, pastikan kemungkinan monopoli konsumen sekitar karena ketika kita
dihadapkan pada sebuah persaingan bisnis sejenis, kita harus memperhatikan
keseluruhan aspeknya, harus memperkuat identitas produk, dll
4.
Sentralisasi
usaha, akan menjadi nilai plus karena calon konsumen pada sentralisasi
seperti itu akan secara otomatis tersaring
Lalu bagaimana jika lokasi usaha
kita tidak berada di suatu sentral usaha? Tidak berada pada lokasi yang sesuai dengan
pendapatan penduduk sekitar ataupun berada dilokasi yang sulit dijangkau? Untuk mengatasinya kita dapat membentuk atau memanfaatkan
suatu rantai distribusi yang terbagi atas beberapa jenis yaitu:
1.
Merchant wholesalers
Menurut Dias & Shah (2009:319), merchant wholesalers adalah
perusahaan grosir yang menggunakan nama sesuai dengan produk yang dipasarkan. Perusahaan
jenis ini mempunyai hak kepemilikan atas barang dagangan yang mereka jual
(mereka membelinya terlebih dahulu) dan melakukan hampir semua fungsi
wholesaling. Mereka dapat mendistribusikan produk ke distributor yang lebih
kecil maupun ke konsumen secara langsung.
2.
Cash-and-carry
Jenis usaha ini melayani hampir semua pengecer yang lebih
kecil namun dengan jenis produk yang terbatas. Pada usaha ini, konsumen melakukan
pembayaran dan kemudian dapat segera membawa produk transaksinya tersebut. Usaha
yang menggunakan cara ini seperti franchise.
3.
Agen dan broker
Agen dan broker merupakan usaha yang tidak memiliki produk
sendiri. Usaha ini hanya berfungsi sebagai perantara antara penjual dan
konsumen. Agen dan broker berfungsi sebagai pencari pembeli maupun pencari
konsumen.
Promosi
Promosi merupakan semua kegiatan
yang dilakukan dalam rangka menyampaikan informasi yang berkaitan dengan sebuah
keistimewaan produk, kegunaan dan tempat pengaksesannya kepada sasaran pasar
sehingga dapat mengubah dan mendorong pola pikir maupun sikap yang diambil
konsumen untuk membeli atau menggunakan produk tersebut
“Promosi adalah suatu komunikasi antara penjual dan
pembeli untuk memperngaruhi sikap dan kelakuan”
E. Jerome Mc. Carthy (2000:273)
“Promosi adalah arus informasi atau persuasi satu arah
yang dibuat untuk mengarahkan seseorang atau organisasi kepada tindakan yang
menciptakan tindakan pertukaran”
Basu Swasta (2002:237)
Basu Swasta (2002:237)
Marwan Asri
(2003:360) berpendapat mengenai tujuan promosi yaitu diantaranya:
1. Informing : Memberikan
informasi secara menyeluruh kepada calon konsumen mengenai barang yang
ditawarkan, siapa yang menjual, siapa yang memproduksi, harga dan sebagainya
yang disampaikan melalui gambar maupun kata yang disesuaikan dengan kondisinya
2. Persuading : Membujuk
dan meyakinkan calon konsumen agar membeli barang yang atau jasa yang
ditawarkan namun bukan bersifat memaksa
3. Reminding : Mengingatkan
kepada konsumen tentang keberadaan barang atau jasa yang dibuat dan dijual,
tempat pengaksesannya, maupun harga
Promosi yang kreatif sangat
diperlukan untuk menghindari kejenuhan konsumen mengingat hal tersebut akan
dilakukan secara berulang-ulang dan berbagai jenis produk yang sama bersaing
untuk meyakinkan konsumen yang sama. Promosi kreatif dapat pula dimanfaatkan
sebagai pencitraan produk, pembentukan identitas produk sehingga tidak menutup
kemungkinan hal tersebut dapat menarik konsumen baru. Promotion tools didefinisikan
dengan (Kotler,1997:604):
1. Advertising (Periklanan)
Promosi
yang dilakukan secara tidak langsung melainkan melalui media dengan menggunakan
pihak lain (organisasi atau individu) untuk menyampaikan pesan dan bersifat
dibayar. Contohnya melaui iklan di televisi dan internet
2. Personal selling (Penjualan perorangan)
Interaksi
langsung antara satu atau lebih calon pembali dengan tujuan melakukan
penjualan, atau presentasi lisan dalam pembicaraan dengan salah satu atau lebih
calon pembeli untuk tujuan melakukan penjualan.
3. Sales promotion (Promosi penjualan)
Kumpulan
perlatan jangka pendek yang menarik, yang dirancang untuk mendorong pembelian
yang lebih cepat dan atau lebih besar akan barang/jasa oleh pelanggan atau
saluran perdagangan (Kotler 2003:461)
Sales promotion merupakan
kegiatan promosi yang bersifat tidak rutin, dan merupakan suatu rangsangan
jangka pendek.
4. Public relation (Publisitas)
Variasi
program yang dirancang untuk memperbaiki, mempertahankan maupaun melindungi
selalu citra perusahaan maupuan produk. Hal ini dapat dilakukan
melalui berita atau informasi mengenai produk, jasa atau ide yang
dipublisitaskan atas nama sponsor tetapi tidak di bayar oleh sponsor sehingga
promosi ini tidak memerlukan biaya.
Rabu, 29 Februari 2012
Harga dalam Marketing
Harga termasuk kedalam 4 unsur yang terdapat dalam
Marketting Mix (Product, Price, Place, Promotion) dan merupakan unsur penting dalam
sebuah siklus pemasaran karena harga merupakan satu-satunya unsure yang dapat menghasilkan
pendapatan bagi perusahaan sedangkan unsur lainnya menghasilkan biaya. Menetapkan
harga produk dengan baik dan tepat agar konsumen tertarik dan membelinya
merupakan suatu keharusan bagi perusahaan untuk mendapatkan keuntungan. Berikut
beberapa pendapat para ahli mengenai harga:
“Price is the amount
of money charged for a product or service. More broadly, price is the sum of
all the value that consumers exchange for the benefits of having or using the
product or service”
"Harga adalah sejumlah
uang untuk ditukarkan sebuah produk atau jasa. Lebih luasnya, harga adalah
jumlah seluruh nominal yang konsumen tukarkan untuk mendapatkan keuntungan dari
memiliki atau menggunakan sebuah produk"
Philip Kotler
” Harga adalah jumlah
uang ( ditambah beberapa barang kalau mungkin ) yang dibutuhkan untuk
mendapatkan sejumlah kombinasi dari barang beserta pelayanannya.”
Basu Swastha (Swastha, 1998; 241
)
Dari kedua pendapat ahli diatas dapat disimpulkan bahwa Harga adalah nilai yang diberikan untuk sebuah produk atau jasa dalam
bentuk uang yang dikeluarkan oleh konsumen untuk ditukarkan dengan barang atau
jasa beserta pelayanannya.
Enam tahapan yang harus diperhatikan perusahaan dalam menetapkan
harga menurut Philip Kotler (Kotler, 2002
: 550) yaitu:
- Perusahaan memilih tujuan penetapan harga.
- Perusahaan memperkirakan kurva permintaan, probabilitas kuantitas yang akan terjual pada tiap kemungkinan harga.
- Perusahaan memperkirakan bagaimana biaya bervariasi pada berbagai level produksi dan pada berbagai level akumulasi pengalaman produksi.
- Perusahaan menganalisa biaya, harga, dan tawaran pesaing.
- Perusahaan menyeleksi metode penetapan harga
- Perusahaan memilih harga akhir.
FAKTOR YANG
MEMPENGARUHI TINGKAT HARGA
Tingkat harga dalam suatu wilayah belum tentu sama dengan wilayah
lainnya, hal-hal yang mempengaruhi tingkat harga menurut Dharmesta dan Irawan
(2005;242-246) diantaranya:
Keadaan perkonomian
Hal ini menjadi inti dalam penetapan harga yang kemungkinan
terjadi. Kenapa? Sebagai contoh adalah ketika terjadi Inflasi luar biasa pada
tahun 1998, harga barang melonjak tajam akibat anjloknya nilai tukar rupiah
hingga Rp. 14.900 saat itu yang tentunya sangat berbeda keadaanya dibandingkan
dengan tahun 1997 yang mencapai Rp.
2.305.
Penawaran dan permintaan
Umumnya penawaran harga yang lebih rendah terhadap suatu
barang akan menyebabkan peningkatan jumlah permintaan terhadap barang tersebut diikuti
dengan peningkatan jumlah produksi atau barang yang beredar di pasaran. Begitupun
sebaliknya.
Elastisitas permintaan
Elastisitas permintaan dipengaruhi oleh jumlah permintaan. Ketika
kuantitas barang yang beredar tidak melebihi jumlah permintaan terhadap barang
tersebut maka dapat dipastikan harga akan menjadi lebih tinggi dari biasanya
karena posisi perusahaan menjadi lebih aman dalam memainkan nominal harga untuk
dapat menghasilkan keuntungan yang lebih besar.
Persaingan
Faktor-faktor yang mempengaruhi harga akibat persaingan
yaitu:
- Jumlah perusahaan dalam industri : Bila terdapat satu perusahaan yang memonopoli suatu industri, maka dapat dipastikan perusahaan tersebut bebas menetapkan harganya pasaran.
- Posisi perusahaan dalam industri : Bila suatu perusahaan memiliki cakupan pasar yang besar, maka secara otomatis perusahaan tersebut akan dijadikan kiblat atau parameter harga dan secara tidak langsung dapat memegang perannya dalam memainkan harga pasaran
- Diferensiasi produk : Apabila suatu perusahaan berhasil menciptakan diferensiasi terhadap produknya, maka perusahaan tersebut dapat lebih leluasa mengendalikan aspek penetapan harganya, sekalipun itu perusahaan kecil dan memiliki banyak pesaing dalam industrinya.
- Kemudahan untuk masuk (Ease ofentry) dalam industri : Jika suatu perusahaan dapat dengan mudah masuk kedalam sebuah industri, maka perusahaan yang sudah lebih dulu terlibat akan sulit dalam mempengaruhi atau mengendalikan harga.
Biaya
Dalam menetapkan sebuah harga, biaya merupakan faktor terpenting yang harus diperhitungkan agar perusahaan tidak mengalami kerugian. harga yang ditetapkan perusahaan harus mampu menutupi seluruh biaya produksi, distribusi, dan penjualan produknya,
termasuk keuntungan yang sesuai dengan usaha dan resiko yang harus ditempuh.
Tujuan perusahaan
Menurut Saladin (2006;142 dan 143) terdapat 6 tujuan yang
menjadi dasar bagi perusahaan dalam menentukan harga, yaitu:
- Bertahan hidup : perusahaan dengan tujuan seperti ini biasanya memberi harga dibawah total biaya keseluruhan. Hal tersebut dilakukan didasari pada kiat mempertahankan usaha dalam jangka waktu pendek hingga dapat menemukan solusi lain ketika dilanda masalah seperti perubahan selera konsumen dll.
- Memaksimalisasi laba jangka pendek : perusahaan meminimalisir biaya/unit dengan melakukan produksi dengan jumlah besar sehingga margin keuntungan yang didapatkan lebih besar. perusahaan mengasumsikan pasar yang peka terhadap harga suatu produk.
- Memaksimalisasi hasil penjualan : perusahaan memaksimalkan penjualan dengan memfokuskan pada permintaan konsumen. maksimalisasi penjualan akan memaksimalkan laba yang diperoleh dalam jangka panjang dan mendapat posisi dalam suatu industri. umunya perusahaan akan memberikan margin tipis tiap produknya untuk mengejar pencapaian kuantitas penjualan.
- Menyaring pasar secara maksimum : perusahaan menetapkan harga untuk menarik segmen pasar baru dengan mengeluarkan produk baru dengan harga tinggi dan kemudian mengeluarkan produk serupa dengan harga bersaing. penetapan harga didasarkan pada survey pasar tiap segmennya.
- Menentukan permintaan : perusahaan menjadikan permintaan konsumen sebagai kiblat yang mengarahkan barang yang dipasarkan dengan menyesuaikan kualitas dengan harga yang dinilai konsumen.
Pengawasan pemerintah
Pengawasn pemerintah juga merupakan faktor yang memperngaruhi harga, keberpihakan pemerintah terhadap suatu industri dapat dilihat dari bagaimana usaha pemerintah dalam mencegah monopoli oleh suatu perusahaan dan penetapan harga maksimum minimum.
METODE PENETAPAN HARGA
Menetapkan harga secara efisien merupakan masalah tersendiri bagi suatu perusahaan. Meskipun metode yang
digunakan sama, tapi optimalisasi kombinasi dari faktor
tersebut disesuaikan dengan sifat produk, pasar, dan tujuan
perusahaan. Kotler (2002
: 529 - 534) mengemukakan enam metode penetapan harga , antara lain :
- Penetapan harga mark-up : menetukan harga dengan memperhitungkan keseluruhan biaya yang dikeluarkan dengan menaikan bagian tertentu untuk dijadikan keuntungan
- Penetapan harga berdasarkan pengembalian yang diharapkan : menentukan harga dengan menyertakan persentase target dari investasi yang dilakukan melalui penjualan barang yang diharapkan terjual
- Penetapan harga berdasarkan nilai yang dipersepsikan : penentuan harga berdasarkan manfaat yang didapat, dan dirasakan konsumen.
- Penetapan harga berdasarkan harga pasar : penentuan harga yang didasarkan pada harga pesaing
- Penetapan harga penawaran tertutup : penetapan harga yang dilakukan secara tertutup seperti dalam tender yang dilakukan oleh instasi pemerintah ataupun swasta dengan mengajukan penawaran amplop tertutup
sumber:
Senin, 27 Februari 2012
segmentasi dalam industri grafika
Pembeli atau pasar memiliki pertimbangan yang beragam atas apa yang
"pantas, seharusnya, dan sebaiknya" dibeli, hal tersebut didasarkan
pada kebutuhan, keinginan atau selera, kemampuan, lingkungan, sumber daya
maupun lokasi tempat tinggal. Atas dasar beragam bahan pertimbangan tersebut
masing-masing pembeli menjadi pasar potensial tersendiri. Oleh sebab
itu idealnya penjual membuat program pemasaran yang disesuaikan dengan karakteristik
pembeli. Begitupun dengan industri grafika, perusahaan dapat mencari jumlah pembeli yang
lebih besar dalam suatu pengelompokan yang memiliki seperangkat keinginan yang
sama. contoh pengelompokan dalam produk grafika, percetakan akan membuat pengelompokan
konsumen atas produknya berdasarkan usia seperti majalah untuk kelompok usia 10 tahun kebawah, remaja, ibu rumah tangga memiliki konten yang berbeda dan menyesuaikan. pengelompokan juga dapat dilakukan berdasarkan minat atau hobi seperti buku memasak, buku beternak, bercocok tanam, dll. mengelompokan produk percetakan bedasarkan tingkat pendidikan seperti buku pelajaran untuk Sekolah Dasar dari beberapa tingkat, SMP, SMA, kuliah dll yang pastinya disesuaikan dengan materi pembahasannya.
konsumen atas produknya berdasarkan usia seperti majalah untuk kelompok usia 10 tahun kebawah, remaja, ibu rumah tangga memiliki konten yang berbeda dan menyesuaikan. pengelompokan juga dapat dilakukan berdasarkan minat atau hobi seperti buku memasak, buku beternak, bercocok tanam, dll. mengelompokan produk percetakan bedasarkan tingkat pendidikan seperti buku pelajaran untuk Sekolah Dasar dari beberapa tingkat, SMP, SMA, kuliah dll yang pastinya disesuaikan dengan materi pembahasannya.
Rabu, 22 Februari 2012
Produk dalam Marketing
(1) “A
product as anything that can be offered to a market for attention, acquisition,
use or consumption and that might satisfy a want or need”
Kotler dan Amstrong
(1996:274)
(2) “A
product is asset of tangible and intangible attributes, including packaging,
color, price quality and brand plus the services and reputation of the seller”
Stanton, (1996:222)
“Produk adalah
pemahaman subyektif dari produsen atas “sesuatu” yang bisa ditawarkan sebagai
usaha untuk mencapai tujuan organisasi melalui pemenuhan kebutuhan dan
keinginan konsumen, sesuai dengan kompetensi dan kapasitas organisasi serta
daya beli”
Tjiptono (1999:95)
***
(1) Produk adalah segala sesuatu yang dapat ditawarkan kedalam pasar
untuk diperhatikan, dimiliki, dipakai atau dikonsumsi sehingga dapat memuaskan
keinginan/ kebutuhan
(2) Suatu produk adalah kumpulan dari
atribut-atribut yang nyata maupun tidak nyata, termasuk di dalamnya kemasan,
warna, harga, kualitas dan merk ditambah dengan jasa dan reputasi penjualannya.
Dari 3 kutipan pendapat diatas dapat kita simpulkan bahwa Produk merupakan segala sesuatu yang dapat
ditawarkan untuk dapat memenuhi keinginan atau kebutuhan konsumen dalam rangka mencapai tujuan organisasi yang
terbentuk dari kumpulan atribut nyata dan/atau tidak nyata.
*****
TINGKATAN PRODUK
Menurut Kotler
(2003:408) ada lima tingkatan produk,
yaitu core benefit, basic product, expected product, augmented product dan
potential product. Penjelasan tentang kelima tingkatan produk adalah :
- Core benefit atau produk inti (namely the fundamental service of benefit that costumer really buying) yaitu manfaat dasar dari suatu produk yang ditawarkan kepada konsumen dan yang benar-benar dibutuhkan dan akan dikonsumsi oleh konsumen.
- Basic product atau produk generik (namely a basic version of the product) yaitu produk yang mampu dikombinasikan untuk mendukung produk inti dalam menyampaikan manfaat inti melalui merk, tingkat kualitas maupun kemasan
- Expected product (namely a set of attributes and conditions that the buyers normally expect and agree to when they purchase this product) yaitu serangkaian atribut produk dan kondisi yang diharapkan mendapat kesepakatan pembeli pada saat membeli.
- Augmented product (namely that one includes additional service and benefit that distinguish the company’s offer from competitor’s offer) yaitu sesuatu yang membedakan antara produk yang ditawarkan dengan produk yang ditawarkan oleh pesaing dengan maksud menambah kepuasan bagi konsumen.
- Potential product (namely all of the argumentations and transformations that this product that ultimately undergo in the future) yaitu segala macam tambahan dan perubahan yang mungkin dikembangkan untuk suatu produk dimasa mendatang.
*****
Sebuah penawaran produk atau jasa dapat dibedakan menjadi
empat kelompok besar. Baik Philip Kotler
maupun Henry Assael membedakan
produk dan jasa ke dalam empat kelompok besar. Pengelompokan tersebut
berdasarkan pada: produk dan jasa manakah yang diutamakan untuk ditawarkan,
serta produk dan jasa manakah yang berfungsi sebagai sarana pendukungnya.
a) Barang Nyata Murni (Pure Product)
Merupakan barang nyata yang berwujud nyata secara fisik,
dapat dipegang, diraba, dibau, dan seterusnya, dan umumya tidak didukung dan
tidak membutuhkan jasa.seperti sabun, pasta gigi, ataupun gula,
b) Barang Nyata dengan Jasa Tambahan (Product Related
Service)
Merupakan barang nyata yang mempunyai wujud nyata secara fisik namun
ditunjang jasa untuk menambah penampilannya bagi konsumen seperti mobil, komputer, dan
barang elektronik lain, serta produk lain yang biasanya disertai garansi penjualan.
barang elektronik lain, serta produk lain yang biasanya disertai garansi penjualan.
c) Jasa Utama Disertai oleh Barang dan Jasa Tambahan
(Equipment Intensive Service)
Intensitas jasa yang ditawarkan lebih besar daripada yang
telah disebutkan sebelumnya. Namun dalam penawarannya diperlukan bantuan dan
dukungan barang berwujud. Misalnya dalam jasa penginapan (hotel), di mana selain
menawarkan penginapan juga menawarkan fasilitan lain, di antaranya adalah
restoran, fasilitas kebugaran (fitness centre).
d) Murni Jasa (Pure Service)
Merupakan mutlak jasa murni yang dalam proses produksinya
tidak menggunakan dan tidak membutuhkan keberadaan barang berwujud, misalnya
pengacara dan konsultan manajemen.
*****
KLASIFIKASI PRODUK
Menurut Kotler
(2002,p.451), produk dapat diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok, yaitu:
1. Berdasarkan wujudnya, yaitu :
- Barang merupakan produk yang berwujud fisik, sehingga bisa dilihat, diraba atau disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan, dan perlakuan fisik lainnya.
- Jasa merupakan aktivitas, manfaat atau kepuasan yang ditawarkan untuk dijual (dikonsumsi pihak lain). Seperti halnya bengkel reparasi, salon kecantikan, hotel dan sebagainya. Kotler (2002, p.486) juga mendefinisikan jasa sebagai berikut : “ Jasa adalah setiap tindakan atau kegiatan yang dapat ditawarkan oleh satu pihak kepada pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apa pun. Produknya dapat dikaitkan atau tidak dikaitkan dengan suatu produk fisik.
2. Berdasarkan aspek daya tahannya produk dapat
dikelompokkan menjadi dua, yaitu :
- Barang tidak tahan lama (nondurable goods) merupakan barang berwujud yang biasanya habis dikonsumsi dalam satu atau beberapa kali pemakaian. Dengan kata lain, umur ekonomisnya dalam kondisi pemakaian normal kurang dari satu tahun. Contohnya: sabun, pasta gigi, minuman kaleng dan sebagainya.
- Barang tahan lama (durable goods) merupakan barang berwujud yang biasanya bisa bertahan lama dengan banyak pemakaian (umur ekonomisnya untuk pemakaian normal adalah satu tahun lebih). Contohnya lemari es, mesin cuci, pakaian dan lain-lain.
3. Berdasarkan tujuan konsumsi yaitu
- Barang konsumsi (consumer’s goods) merupakan suatu produk yang langsung dapat dikonsumsi tanpa melalui pemrosesan lebih lanjut untuk memperoleh manfaat dari produk tersebut.
Menurut Kotler (2002, p.451), ”barang konsumen adalah barang yang dikonsumsi untuk kepentingan konsumen akhir sendiri (individu dan rumah tangga), bukan untuk tujuan bisnis”. Pada umumnya barang konsumen dibedakan menjadi empat jenis :
- Convenience goods merupakan barang yang pada umumnya memiliki frekuensi pembelian tinggi (sering dibeli), dibutuhkan dalam waktu segera, dan hanya memerlukan usaha yang minimum (sangat kecil) dalam pembandingan dan pembeliannya. Contohnya antara lain produk tembakau, sabun, surat kabar, dan sebagainya.
- Shopping goods merupakan barang yang dalam proses pemilihan dan pembeliannya dibandingkan oleh konsumen diantara berbagai alternatif yang tersedia. Contohnya alat-alat rumah tangga, pakaian, furniture, mobil bekas dan lainnya.
- Specialty goods merupakan barang yang memiliki karakteristik dan/atau identifikasi merek yang unik dimana sekelompok konsumen bersedia melakukan usaha khusus untuk membelinya. Misalnya mobil Lamborghini, pakaian rancangan orang terkenal, kamera Nikon dan sebagainya.
- Unsought goods merupakan barang-barang yang tidak diketahui konsumen atau kalaupun sudah diketahui, tetapi pada umumnya belum terpikirkan untuk membelinya. Contohnya asuransi jiwa, ensiklopedia, tanah kuburan dan sebagainya.
- Barang industri (industrial’s goods) merupakan suatu jenis produk yang masih memerlukan pemrosesan lebih lanjut untuk mendapatkan suatu manfaat tertentu. Biasanya hasil pemrosesan dari barang industri diperjual belikan kembali.
*****
ATRIBUT PRODUK
Menurut Kotler & Armstrong (2001:354) beberapa
atribut yang menyertai dan melengkapi produk (karakteristik atribut
produk) adalah:
a. Merek (branding)
b. Pengemasan (packing)
Pengemasan
(packing) adalah proses yang berkaitan dengan perancangan pembuatan wadah, pembungkus maupun pengangkutan. Hal ini berfungsi sebagai pelindung isi (kerusakan), kemudahan bagi konsumen (membawa, penyusunan, penghitungan), pemakaian ulang (sebagai wadah lain), daya tarik bagi konsumen (desain, artistik) , identitas produk, maupun informasi produk (komposisi, cara pemakaian).
c. Kualitas Produk (Product Quality)
Kualitas
Produk (Product Quality) adalah kemampuan suatu produk
untuk melaksanakan fungsinya meliputi, daya tahan keandalan,
ketepatan kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut bernilai
lainnya. Untuk meningkatkan kualitas produk perusahaan dapat
menerapkan program ”Total Quality Manajemen (TQM)". Selain mengurangi kerusakan produk, tujuan pokok kualitas total adalah untuk meningkatkan nilai pelanggan.
untuk melaksanakan fungsinya meliputi, daya tahan keandalan,
ketepatan kemudahan operasi dan perbaikan, serta atribut bernilai
lainnya. Untuk meningkatkan kualitas produk perusahaan dapat
menerapkan program ”Total Quality Manajemen (TQM)". Selain mengurangi kerusakan produk, tujuan pokok kualitas total adalah untuk meningkatkan nilai pelanggan.
d. Garansi (Guarantee)
Garansi adalah
janji atau jaminan yang merupakan kewajiban produsen atas produknya terhadap
konsumen. Garansi tidak tertulis merupakan kewajaran tanggung jawab atas
pembayaran pembeli sedangkan garansi tertulis merupakan perlindungan yang
diberikan kepada konsumen terhadap produk yang dibeli secara sah. Namun kenyataannyal,
garansi jaminan tertulis merupakan pembatasan tanggung jawab produsen pada apa
yang tertulis bahkan dapat dimanfaatkan sebagai promosi produk seperti ”Jaminan
100% halal, tidak mengandung bahan pengawet, kadar kolesterol rendah, dan
sebagainya”
*****
Kualitas produk merupakan pemahaman produsen bahwa produk
yang ditawarkan kepada konsumen mempunyai nilai jual lebih disbanding dengan
produk pesaing. Oleh karena itu perusahaan berusaha memfokuskan pada kualitas
produk dan membandingkannya dengan produk yang ditawarkan oleh perusahaan
pesaing. Akan tetapi, suatu produk dengan penampilan lebih baik bukanlah
merupakan merupakan satu-satunya parameter jika tampilannya bukanlah yang dibutuhkan dan
diinginkan oleh pasar.
Menurut Kotler and
Armstrong (2004, p.283) arti dari kualitas produk adalah “the ability of a
product to perform its functions, it includes the product’s overall durability,
reliability, precision, ease of operation and repair, and other valued
attributes” yang artinya kemampuan sebuah produk dalam memperagakan fungsinya,
hal itu termasuk keseluruhan durabilitas, reliabilitas, ketepatan, kemudahan
pengoperasian dan reparasi produk juga atribut produk lainnya.
DIMENSI KUALITAS
PRODUK
“Apabila perusahaan
ingin mempertahankan keunggulan kompetitifnya dalam pasar, perusahaan harus
mengerti aspek dimensi apa saja yang digunakan oleh konsumen untuk membedakan
produk yang dijual perusahaan tersebut dengan produk pesaing”
Mullins, Orville,
Larreche, dan Boyd (2005, p.422)
Dimensi kualitas produk tersebut terdiri dari :
- Performance (kinerja), berhubungan dengan karakteristik operasi dasar / kebermanfatan dari sebuah produk.
- Durability (daya tahan), yang berarti berapa besar ketahanan atau umur produk yang bersangkutan. Semakin besar frekuensi pemakaian konsumen terhadap produk maka semakin besar pula daya tahan yang harus dimiliki produk. Kepuasan yang didapatkan konsumen terhadap kebermanfaatan suatu produk.
- Conformance to specifications (kesesuaian dengan spesifikasi), yaitu sejauh mana karakteristik desain dan operasi produk dapat memenuhi standar-standar yang telah ditetapkan sebelumnya atau ada tidaknya kecacatan pada produk.
- Features (fitur), adalah karakteristik produk yang dirancang untuk menyempurnakan fungsi produk atau menambah ketertarikan konsumen terhadap produk.
- Reliabilty (reliabilitas), adalah probabilitas bahwa produk akan bekerja dengan memuaskan atau tidak dalam periode waktu tertentu. Semakin kecil kemungkinan terjadinya kerusakan maka produk tersebut dapat diandalkan.
- Aesthetics (estetika), berhubungan dengan bagaimana penampilan produk bisa dilihat dari tampak, rasa, bau, dan bentuk dari produk.
- Perceived quality (kesan kualitas), sering dibilang merupakan hasil dari penggunaan pengukuran yang dilakukan secara tidak langsung karena terdapat kemungkinan bahwa konsumen tidak mengerti atau kekurangan informasi atas produk yang bersangkutan. Jadi, persepsi konsumen terhadap produk didapat dari harga, merek, periklanan, reputasi, dan Negara asal.
Sumber:
http://elib.unikom.ac.id/download.php?id=59831
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pemasaran/Bab_6.pdf
http://elearning.gunadarma.ac.id/docmodul/pemasaran/Bab_6.pdf
Langganan:
Komentar (Atom)





